Zonalabour.com, Jakarta – Syaifullah, S.E., pengusaha kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1972, menjadi salah satu figur inspiratif dalam pengembangan usaha sekaligus pemberdayaan masyarakat. Melalui jaringan yayasan yang dibangunnya, ia kini aktif mendukung program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Kamis (16/04/2026)
Syaifullah diketahui mendirikan sejumlah yayasan, di antaranya Eka Bangsa Labdajaya, Tri Bangsa Labdajaya, Panca Bangsa Labdajaya, Nava Bangsa Labdajaya, Sapta Bangsa Labdajaya, hingga Dasa Bangsa Labdajaya. Yayasan tersebut berfokus pada penguatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menariknya, di balik keterlibatannya dalam berbagai program besar, Syaifullah juga memiliki keterkaitan dengan sebuah rumah makan sederhana nasi Padang. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya bukan pemilik langsung usaha tersebut.
“Kalau rumah makan ini sebenarnya bukan milik saya. Ini adalah usaha yang menyewa lahan milik saya selama 15 tahun, dan sekarang sudah memasuki tahun ke-14,” ujar Syaifullah saat dijumpai di Restoran Sederhana Pinang Ranti, Jl. Raya Pondok Gede, Pinang Ranti, Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur.
Meski demikian, ia mengakui tetap memiliki keterlibatan tidak langsung dalam aktivitas usaha tersebut, terutama dalam aspek pemberdayaan tenaga kerja dan rantai pasok bahan baku.
“Dalam operasionalnya, tenaga kerja yang terserap sebagian juga berasal dari lingkungan kami, begitu juga dengan pemasok bahan baku. Jadi tetap ada kontribusi dari sisi pemberdayaan,” jelasnya.
Menurut Syaifullah, kunci utama bertahannya rumah makan Padang terletak pada konsistensi rasa dan menjaga karakter masakan.
“Kunci dari rumah makan itu sebenarnya mempertahankan resep. Karakter rumah makan Padang itu ada pada rendang. Kalau rendang dijaga rasanya dan tidak berubah, itu akan menjadi ikon dan identitas,” tegasnya.
Keterlibatan Saifullah dalam program MBG bermula pada akhir 2024, bertepatan dengan penguatan program pemerintah pasca pelantikan Presiden.
Ia mengungkapkan, dirinya menghadiri kegiatan rapat koordinasi wilayah yang digelar oleh Badan Gizi Nasional bersama unsur masyarakat di kawasan Kramat, Jakarta Pusat.
“Saat itu disampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu program utama pemerintah. Dari situ saya mulai menganalisis dan akhirnya mengambil inisiatif membentuk yayasan sebagai legal standing untuk ikut terlibat,” katanya.
Langkah tersebut menjadi titik awal pengembangan dapur MBG yang kini telah tersebar di berbagai wilayah.
Kelola Dapur MBG di Berbagai Wilayah
Saat ini, melalui yayasan yang dipimpinnya, Saifullah telah mengelola sedikitnya tujuh dapur MBG yang tersebar di sejumlah daerah.
Untuk dapur MBG yang dikelolanya berada di wilayah Jabodetabek hingga luar daerah, di antaranya Pamulang (Banten), Jatibening Baru, serta Karawang, dua titik di Sulawesi Tenggara dan Tanah Abang (Jakarta Pusat).
“Total saat ini ada sekitar tujuh dapur MBG yang kami kelola,” ungkapnya.
Dalam menjalankan program MBG, Saifulloh mengakui tantangan terbesar justru datang dari aspek pendanaan, khususnya pada tahap awal operasional.
“Tantangan paling utama adalah kesiapan finansial. Di awal, banyak mitra yang mengalami kekurangan dan semuanya melapor ke saya. Sebagai penanggung jawab, saya harus mencari solusi agar operasional tetap berjalan,” jelasnya.
Namun seiring waktu, ia menyebut kondisi mulai membaik seiring bertambahnya pengalaman dan sistem yang semakin tertata.
“Alhamdulillah, setelah berjalan, semuanya mulai stabil dan pengalaman juga semakin matang,” tambahnya.
Syaifullah menegaskan bahwa program MBG merupakan program mulia yang memiliki dampak besar bagi masa depan bangsa, khususnya dalam meningkatkan kualitas gizi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ia bahkan memberi nama yayasan yang dipimpinnya dengan unsur “Bangsa Labdajaya” sebagai bentuk filosofi pengabdian.
“Program ini dari bangsa untuk kembali kepada bangsa. Makanya saya gunakan nama ‘Bangsa Labdajaya’. Karena saya yakin, ketika bangsanya jaya, maka negara juga akan jaya,” ujarnya.
Menurutnya, program MBG menjadi salah satu kebijakan yang langsung menyentuh masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus memberikan efek berantai terhadap sektor ekonomi.
“Program ini bukan hanya soal makanan, tapi juga menggerakkan ekonomi dari berbagai sektor. Saya sangat mendukung penuh,” tegasnya.
Ke depan, Syaifullah berharap jaringan yayasan dan dapur MBG yang dikelolanya dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.
Ia juga optimistis kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta akan menjadi kunci keberhasilan program-program strategis nasional.
“Harapan kami, apa yang dilakukan hari ini bisa menjadi kontribusi nyata bagi masa depan bangsa,” pungkasnya. (Syz08)





Tinggalkan Balasan