Zonalabour.com, Bengkulu – Ada seorang lelaki miskin tinggal menumpang di rumah saudaranya. (22/07/2025)
Hidup sederhana, seadanya. Ia tidak punya rumah, tak punya penghasilan tetap.
Suatu malam, tuan rumah mengeluh sambil bercanda, “Listrik kok cepet banget habis ya bulan ini…” Si miskin langsung merasa tersindir, hatinya panas.
Beberapa hari kemudian, tuan rumah bilang ke istrinya, “Tagihan air naik terus, udah kayak sungai bocor nih…” Si miskin menunduk. Lagi-lagi merasa dituding.
Suatu sore, anak tuan rumah disuruh beli beras. “Biasanya cukup sepuluh hari, kok sekarang seminggu udah habis?” Si miskin kembali tertikam. Padahal belum tentu itu karena dia semata.
Ia jadi mudah tersinggung. Hatinya mudah rapuh. Bukan karena dia tidak baik, tapi karena posisi hidupnya tidak nyaman.
Dan itulah sebabnya mengapa kalau orang miskin tidak bahagia masih bisa dimaklumi. Kalau orang kaya tidak bahagia… rugi…
Bahkan ada yang lebih parah: sudah miskin… sombong, tidak shalat pula. Hmh …Tidak punya harta apa-apa, tidak pula punya pegangan jiwa. Sudah sempit hidupnya di dunia, sempit pula kelak di akhirat.
Saya pernah melihat seorang buruh panggul di pasar. Siang malam kerja, tapi tak pernah shalat. Begitu capek, marah-marah. Begitu lapar, mengeluh terus.
Anaknya nakal, istrinya sering sakit, hidupnya kacau. Miskin pasti iya, tidak dekat pula dengan Allah pula. Doble sengsara.
Di sisi lain, saya ketemu orang kaya – hidupnya menderita. Mobil ada. Rumah besar. Tabungan tak habis tujuh turunan. Tapi gelisah. Gampang marah. Anaknya jauh darinya. Istrinya hanya formalitas. Jiwanya hampa. Kenapa? Karena ia tidak mengamalkan agama.
Bahagia itu bukan hasil dari fasilitas, tapi dari hubungan dengan Allah yang tulus. Saya pernah bertemu Pak Ramli, tukang tambal ban di pinggir pasar. Bajunya lusuh, penghasilannya tak seberapa. Tapi setiap saya lewat, dia tersenyum. Shalatnya tidak pernah putus, bibirnya tak pernah kering dari zikir.
Anaknya sekolah seadanya, tapi wajah mereka bercahaya. Istrinya menyambut suami dengan hangat walau rumah mereka hanya berdinding triplek. Mereka miskin, tapi hati mereka penuh syukur. Mereka bahagia.
Lalu ada Haji Basri, seorang pengusaha sukses. Rumahnya besar, mobilnya mewah. Tapi bukan itu yang membuatnya bahagia.
Ia selalu bangun sebelum subuh, menangis dalam tahajud. Ia dermawan, sering diam-diam membantu orang. Lembut kepada istrinya, tenang saat berbicara.
Karyawannya mencintainya, bukan karena gaji – tapi karena akhlaknya. Dia kaya, dan dia juga bahagia.
Beginilah adilnya Allah. Orang miskin bisa bahagia, kalau ia punya iman. Orang kaya bisa menderita, kalau kosong dari iman.
Sebaliknya, yang miskin kalau tak shalat – sengsaranya lengkap. Yang kaya juga kalau tak punya hubungan dengan Allah – akan sengsara.
Karena bahagia itu bukan milik siapa yang punya rumah, bukan milik yang punya uang. Bahagia adalah milik siapa yang menyempurnakan amal agamanya.
Sapa yang menyempurnakan agama dalam hidupnya, dialah yang menang… dialah yang bahagia.
Penulis: Saeed Kamyabi






Tinggalkan Balasan