by

Wisata Hati Akhir Zaman

-OPINI-372 views
ZONALABOUR.COM, JAKARTA – Untuk dapat melihat sesuatu yang ada disekitar kita ini diperlukan dua sinar yaitu : 
1. Sinar Luar Matahari, Bulan, Lampu.
2. Sinar dari Diri kita sendiri Mata yang terbuka dan sehat 
Diperlukan 2 sinar ini untuk dapat melihat, jika salah satu rusak maka tidak bisa kita melihat. Contoh disiang hari ada matahari bersinar tapi jika mata kita buta atau ditutup, maka kita tidak akan bisa melihat. Walaupun sinar luar ada tapi mata kita buta atau mata kita ditutup, maka kita tidak akan bisa melihat. Begitu juga sebaliknya jika mata kita sehat tapi lampu di kamar tidak ada, matahari tidak ada, bulan tidak kelihatan, maka kita juga tidak akan mampu melihat. Jadi untuk dapat melihat diperlukan dua sinar ini. 
Demikian pula untuk dapat memahami agama diperlukan 2 sinar : 
1. Sinar luar Al Quran dan Hadits
2. Sinar dalam Mata Hati kita terbuka 
Baru bisa paham agama jika ada 2 sinar ini. Kalau hanya diajarkan saja Quran dan Hadits tapi mata hati kita tertutup, tidak terbuka, maka kita tidak akan bisa paham agama. Saat ini banyak di dunia barat, di Eropa ataupun Amerika, di universitas2 mereka ada pelajaran Islamology diajarkan Al Quran dan Hadits. Namun yang belajar Quran dan Hadits ini tidak ada Iman dan tidak Islam sebab mata hatinya tertutup. Rasullullah SAW, untuk memberikan kepahaman agama pada waktu itu kepada sahabat, menempuh jalan kedua-duanya yaitu mengusahakan sinar luar dan sinar dalam. Sahabat RA diajarkan Quran dan Hadits oleh Nabi SAW, tapi juga diusahakan agar mata hati mereka terbuka sehingga nur daripada Quran dan Hadits ini dapat masuk ke hati mereka. Baru Sahabat RA bisa memahami agama. 
Cara membuka mata hati ini adalah dengan bermujahaddah. Namun kalau Al Quran dan Hadits tidak diajarkan maka tetap dia akan tersesat. Di kalangan orang2 hindu dan budha banyak Mujahaddah dilakukan, ada yang bertapa di goa2, duduk diatas batu, ada yang berpuasa berbulan2, dan lain-lain, tapi tidak diajarkan Al Quran dan Hadits, maka dia akan tetap tersesat. Didalam islam yang diajarkan oleh Nabi SAW selain diajarkan Al Quran dan Hadits tapi diajarkan pula bagaimana mata hati dapat terbuka. Bukan dengan bertapa di dalam gua ataupun duduk diatas batu tapi dengan bersusah payah dalam mendakwahkan agama Allah Swt. Hati para sahabat terbuka ketika terjun dalam dakwah dengan bermujahaddah dalam memperjuangkan agama Allah. Usaha ini di dalam Al Quran disebut sebagai Tazkiyah, Pembersihan Jiwa. Kalau kita ingin memahamkan agama kepada umat hanya dengan mengajarkan Quran dan Hadits tanpa membuka mata hatinya tetap umat tidak akan paham agama. 
Sekarang banyak umat islam tamatan perguruan tinggi, tamatan pesantren, tamatan madrasah, tapi masih berani meninggalkan sholat. Dia paham Quran dan hadits dan hafal, tapi matanya masih melihat yang diharamkan. Kalau diangkat sebagai pejabat masih berani Korupsi. Kenapa ? karena mata hati mereka tidak terbuka. Orang-orang terdahulu disamping mengajarkan Al Quran dan hadits, tetapi juga di ajak bermujahaddah dalam memahami agama. Orang-orang terdahulu bemujahaddah dalam agama, dari para sahabat ra, tabiin-tabiin, para wali-wali Allah, mereka semua bermujahaddah dalam agama, baru mereka bisa menangkap Nur daripada Al Quran dan hadits, baru mereka paham. Sehingga bisa membawa mereka kepada pengamalan. 
Kelemahan kita di hari ini, kepada umat ini kita hanya penekanan pada Al Quran dan Hadits, sinar luar saja, tetapi tidak ada penekanan pada pembukaan mata hati. Sehingga orang ada belajar jadi alim, pandai ceramah, dan sebagainya, tetapi islam tidak ada pada dirinya, tidak bisa mengamalkan. Ini kelemahannya karena tidak ada Tazkiyah, tidak ada usaha pembersihan jiwa, tidak ada mujahaddah di jalan Allah Swt. Mari kita lihat faktor sejarah : Bagaimana Rasullullah Saw memahamkan agama kepada para sahabat RA, bagaimana sahabat RA memahamkan kepada para Tabi’in, bagaimana para Tabi’in memahamkan kepada tabi’in tabi’in, dan seterusnya. Ini asbab faktor mujahaddah di jalan Allah ini tidak ditinggalkan oleh mereka. Semenjak bermujahaddah ditinggalkan, akibatnya umat tidak faham agama. Akibatnya pemahaman umat berbeda-beda menurut pemikirannya masing-masing. 
Sekarang dimana-mana ada keinginan umat islam untuk memiliki pemerintahan yang adil, yang menjalankan syariat islam, inilah cita-cita dari umat. Tapi masalahnya perjuangan kearah itu mereka tidak pahami, mereka menggunakan cara sendiri. Mereka memilih orang-orang dengan mendirikan partai, memilih di Pemilu, dsb. Mereka memilih orang2 yang menurut pendapat mereka dan menurut pemikiran mereka bisa adil dan bisa amanah. Ternyata dari pengalaman setelah terpilih orang yang mereka anggap baik, taunya sama saja. Ini karena adanya pemerintah yang adil bukan dengan cara seperti itu. 
Menurut Al Quran dan Hadits, apabila umat ini taat kepada Allah Swt, menjalankan agama secara sempurna, maka Allah akan turunkan rahmat diantaranya Allah akan angkat pemerintahan yang adil. Jadi pemerintahan yang adil ini adalah karunia dari Allah Swt kepada masyarakat yang taat kepada Allah. Namun jika masyarakat ini mungkar, tidak taat kepada Allah Swt, maka Allah akan turunkan adzab, berdasarkan Al Quran dan Hadits, salah satu adzab itu adalah Allah akan angkat pemerintahan yang tidak adil, yang dzalim dan yang khianat. Kita ini mau berusaha mendirikan pemerintah yang adil ditengah-tengah masyarakat yang tidak taat pada Allah, yang mungkar, ini sama dengan melawan sunnatullah. Tidak mungkin terjadi dan tidak pernah terjadi. Ini sudah menjadi ketetapan Allah Swt kalau manusia tidak taat maka Allah akan hukum kita diantaranya dengan mengangkat pemerintahan yang dzolim. Namun jika masyarakatnya taat kepada Allah sebagai rahmat daripada Allah, maka Allah akan angkat pemerintahan yang adil. Jadi karena kita tidak paham kepada agama, perjuangan-perjuangan menuju arah situ, bukan pada arah yang benar, tetapi berada pada arah yang salah. 
Hari ini ada juga yang ingin menegakkan yang Haq, dengan cara menghapuskan kebathilan yaitu dengan cara diperangi, dibunuhin, tempat-tempat mereka dihancurkan. Ini bukanlah yang dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabat RA. Nabi SAW diutus bukan untuk membunuh orang2 penyembah berhala atau peminum arak. Pada waktu itu oang-orang arab adalah para penyembah berhala dan peminum arak, berbagai macam pelanggaran dan kemakiatan dilakukan mereka, tapi Nabi SAW tidak diperintahkan untuk membunuh mereka. Namun yang dilakukan Nabi SAW adalah bermujahaddah berdakwah mengajak mereka kepada Iman dan taat kepada Allah. Baru Allah berikan mereka Hidayah dan kepahaman agama. Sehingga yang tadinya penyembah berhala dan peminum arak menjadi orang-orang yang taat kepada Allah Swt. Demikianlah apabila mata hati kita tidak terbuka untuk memahami agama sering terjadi kesalah pahaman. Memang diantara perintah Allah dalam Al Quran salah satunya adalah berperang dengan orang kafir. Namun Timingnya harus diperhatikan, karena kata ulama : 
“Al Qital qobla Dakwah as sholah Qobla Wudhu” 
Artinya :
“Berperang membunuh orang kafir tanpa dakwah seperti sholat tanpa wudhu” 
Kalau kita sholat tanpa wudhu tidak akan diterima. Walaupun tingginya nilai sholat tapi kalu tanpa wudhu maka tidak akan diterima. Katakanlah Jihad berperang itu tinggi nilainya disisi Allah tetapi kalau tidak ditegakkan dakwahnya, makanya tidak akan diterima oleh Allah Swt. Tidak ada Nabi yang diutus oleh Allah Swt untuk langsung membunuh orang kafir, membunuh para ahli maksiat, tetapi di dakwah dulu. 
Sekarang ini ada keinginan mempelajari agama dengan tenang-tenang saja, dengan asyik- asyik, tidak mau bermujahaddah, sehingga timbullah ketidak pahaman atas agama. Apa yang terjadi di kita hari ini sebagai hukuman dari Allah kepada kita, untuk menghilangkannya, kita hari ini tidaklah menggunakan jalan yang benar. Kita gunakan jalan kejahilan dengan ketidak pahaman sehingga sering tidak berhasil. Sering kita dengar harga barang naik dimana-mana, apa yang dilakukan umat islam? Mereka berdemo tiap hari, supaya harga turun, sehingga timbulah keributan dan kekacauan-kekacauan. Namun harga tetap tidak turun-turun. Jika kita pandang semua ini dengan kacamata Iman, naiknya semua harga di dunia ini atau di suatu negeri bukan kerja pemerintah tapi kerja Allah Swt. Semuanya diatur oleh Allah Swt, dari harga yang penting-penting sampai yang kecil-kecil di pasar dari cabe, gula, garam, semuanya atas izin dan ketentuan Allah Swt. Tidak ada harga yang naik bukan dari ketentuan Allah Swt, hakekatnya semuanya atas ketentuan dari Allah Swt. Namun Allah Swt memberikan pelajaran melalui Al Quran dan Hadits asbab-asbabnya. 
Dalam Suatu Hadist Mahfum : 
Apabila ummat ini melakukan 3 dosa maka Allah akan datangkan 4 Adzab : 
3 Dosa apa saja :
1. Membangun gedung tinggi-tinggi
2. Melaksanakan pesta pernikahan mewah-mewah
3. Membenci dan memusuhi ulama-ulama tidak mau mendengarkan fatwa dan nasehat mereka 
Maka akan datang 4 Adzab : 
1. Diangkatnya pemerintah yang dzalim
2. Diangkat pejabat-pejabat yang khianat
3. Dinaikkannya harga-harga barang
4. Dicabut keberkahan daripada ummat. 
Jadi kita tidak sadar bahwa kondisi yang ada sekarang akibat dari dosa-dosa kita sendiri. Andaikata kita tobat dari dosa tersebut maka dengan sendirinya segala keburukan ini akan Allah perbaiki. ( Roedi S )

Comment