Zonalabour

Rudi Susyanto: Pemerintah Sebaiknya Cabut Moratorium Tenaga Kerja Timur Tengah

Pemimpin umum media berita nasional zonalabour.com, Rudi Susyanto bersama Ketua umum Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya, Erwan Bambang Irawan.[Dok/zonalabour.com]
ZONALABOUR.COM, JAKARTA – Eksistensi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) memiliki peran strategis bagi kesejahteraan keluarga TKI itu sendiri. Dengan profesi sebagai TKI, tentunya dapat meningkatkan pendapatan secara ekonomi yang secara pasti dapat membantu meningkatkan taraf hidup keluarga. Ini dikatakan Rudi Susyanto, Rabu (16/1/2017).

Ditambahkan Rudi Susyanto yang juga sebagai pemimpin umum media online berita nasional Zonalabour.com, sebagai pahlawan devisa, TKI yang bekerja di luar negeri, dapat menyekolahkan anak-anak mereka hinga sarjana. Perbaikan ekonomi dan pendidikan tentu saja menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Sebutan yang tepat sebagai pahlawan devisa yang bekerja di luar negeri, TKI /TKW selain dapat membiayai pendidikan anak-anak hingga sarjana, juga mampu memperbaiki sarana tempat tinggal yang lebih baik. Dengan situasi dan kondisi ini, lanjut Rudi, daya beli dan ekonomi masyarakat semakin tinggi.” Ujar Rudi.

Namun Pemimpin Umum media online Zonalabour.com itu menyayangkan pemerintah yang telah memberlakukan moratorium terhadap TKI khususnya yang bekerja di wilayah Timur Tengah dan hingga sekarang belum ada tanda -tanda dicabut.

Moratorium oleh pemerintah ini lanjut Rudi Susyanto, berakibat dan berimbas negatif terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat yang semakin melemah.

“Dampak moratorium ini sangat fatal bagi perekonomian masyarakat yang berdampak pada tingkat kesejahteraan yang menurun. Daya beli melemah dan pengangguran bertambah. Sebaiknya pemerintah segera mencabut moratorium ini.” Tegasnya.

Menimbang kondisi perekonomian yang semakin lemah, Rudi berharap pemerintah mencabut segera pemberlakuan moratorium sehingga TKI dapat kembali bekerja di Timur Tengah sehingga roda ekonomi kembali normal dan berdampak terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat khsusnya TKI.

“Sebaiknya pemerintah mencabut moratorium agar perekonomian masyarakat kembali normal dan devisa negara meningkat.” Imbuh Rudi.[]

Tanggapan KSPI Terhadap Kartu Pekerja Yang Diterbitkan Pemprop DKI Jakarta

ZONALABOUR.COM, JAKARTA – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) setuju dan mendukung program Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang berorientasi kepada kesejahteraan. Namun demikian, dalam pelaksanaan di lapangan dan aturan kebijakannya harus tetap dikritisi dan diperbaiki secara bertahap.

“KSPI menyambut baik keseriusan Pemprov DKI untuk mensejahterakan kaum buruh tersebut,” demikian disampaikan Presiden KSPI Said Iqbal di Jakarta, Jum’at (12/1/2018).

Namun demikian, lanjut Iqbal, implementasi dari program tersebut harus tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah konflik horisontal di kalangan buruh serta hanya sekedar program pencitraan.

Karena itu, pada tahap pertama; penerima kartu pekerja adalah pekerja penerima upah minimum (UMP) yang menurut definisi UU No 13/2003 adalah pekerja yang memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun dan baru pertama kali masuk kerja setelah lulus sekolah.

Pertanyaannya adalah, apakah semua pekerja yang memiliki masa kerja di atas 1 tahun, seperti yang sudah bekerja 5, 7, 10, hingga 30 tahun tetapi masih menerima UMP juga akan menerima kartu pekerja? 

Karena faktanya jumlah penerima kartu pekerja tersebut saat peluncuran hanya sekitar 35 ribu orang pekerja. Padahal apabila memakai definisi pekerja penerima UMP seperti yang KSPI sebutkan di atas, jumlah penerima kartu pekerja adalah lebih 500 ribuan orang pekerja.

Akibatnya, secara teknis di lapangan akan terjadi konflik horisontal karena tidak semua pekerja penerima UMP mendapat kartu pekerja. Akhirnya program ini terkesan pencitraan saja hanya sekedar sudah memenuhi janji kampanye kepada buruh tetapi sesungguhnya hanya basa basi.

Pertanyaan berikutnya, berapa dana anggaran untuk program ini? Pasti dana APBD DKI Jakarya hanya terbatas dengan jumlah penerima kartu pekerja juga akan terbatas. Padahal yang dibutuhkan adalah sejumlah dana APBD DKI Jakarta yang dapat dibayarkan untuk sekitar 500 ribuan pekerja penerima UMP yang kira-kira anggarannya triliunan rupiah, pasti APBD DKI Jakarta tidak cukup. Sehingga, akhirnya program ini akan jalan sekedarnya dan tidak tepat sasaran serta tidak akan meningkatkan kesejahteraan buruh DKI Jakarta.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kartu ini juga berhak didapatkan pekerja yang ber-KTP DKI tapi bekerja di luar DKI Jakarta? 

“Berdasarkan hal tersebut di atas, KSPI berpendapat, jangan program yang baik ini, ujung-ujungnya hanya mensubsidi perusahaan menengah atas dan multi nasional dengan menggunakan uang negara yang berasal dari pajak rakyat. Karena perusahaan menengah atas inilah yang banyak mempekerjakan buruh kontrak dan outsourcing dengan masa kerja di atas 1 tahun yang menerima UMP,” tegas Said Iqbal.

Bisa jadi, program kartu pekerja tidak akan sesuai harapan buruh dan menyimpang dari visi misi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dalam janji kampanyenya.

KSPI berharap, selain meluncurkan program kartu pekerja, Gubernur DKI Jakarta tetap mempertimbangkan agar UMP DKI tidak lebih rendah dari UMK Karawang dan Bekasi.

“Mohon kiranya Gubernur DKI Jakarta segera memutuskan nilai upah minimum sektoral (UMSP) sesuai harapan buruh agar daya beli masyarakat DKI meningkat di tengah harga beras, listrik, BBM, dan lainnya yang melambung tinggi,” pungkasnya.[]

Ribuan Buruh KSPI Akan Aksi Tolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik

KSPI saat berunjuk rasa.

JAKARTA – Ribuan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan melakukan aksi yang disebut: AKSI 105 WATT. Disebut AKSI 105 WATT karena aksi ini akan dilakukan Rabu (10/5/2017) di DPR RI untuk menolak kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Hal ini disampaikan Ketua Departemen Infokom dan Media KSPI, Kahar S. Cahyono melalui rilis ke redaksi, Selasa (9/5).

Buruh menilai Pemerintah tidak sensitif terhadap beban hidup masyarakat. Apalagi kenaikan ini dilakukan menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya. Sehingga bisa dipastikan harga pokok akan semakin melambung tinggi akibat pemerintah tidak bisa mengendalikak harga-harga, seperti bawang putih, minyak goreng, daging. Ditambah dengan kenaikan tarif dasar listrik, maka beban masyarakat akan semakin berat.

Menurut Presiden KSPI yang juga presiden FSPMI, kenaikan harga listrik menurunkan daya beli buruh hingga 20 persen.
“Dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, daya beli buruh turun diperkirakan menjadi 30 persen. Dengan demikian gaji buruh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sebulan sehingga harus berhutang. Ibaratnya gali lubang tutup lubang.” kata Iqbal.

Kalaupun ada THR pada hari raya nanti, itu digunakan untuk membayar hutang dan biaya transportasi untuk pulang kampung. Jadi kehidupan kaum buruh tidak pernah berubah.

Oleh karena itu, keputusan pemerintah menaikkan harga listrik sangat tidak masuk akal dan merupakan kebijakan yang liberal. Kebijakan ini hanya untuk menutupi defisit anggaran PLN yang terus berugi.

Dalam hal ini, buruh menilai Pemerintah tidak kreatif dalam menyiasati kerugian PLN tersebut. Misalnya dengan melakukan konversi bahan bakar pembangkit listrik dari solar ke batubara, efisiensi terhadap over head cost dari PLN, dan restrukturisasi aset PLN.

“Ketimbang hanya menaikkan harga listrik seperti layaknya rentenir terhadap rakyat kecil dan buruh, mustinya PLN melakukan langkah-langkah efisiensi,” kata Iqbal.

Aksi 10 Mei nanti yang akan dilakukan di beberapa kota besar adalah awal dari rangkaian aksi yang terus menerus akan diperjuangkan oleh kaum buruh dan mahasiswa dengan membawa tuntutan tolak kenaikan harga tarif dasar listrik 900 VA dan HOSJATUM (Hapus OutSourcing dan pemagangan – JAminan sosial: jaminan kesehatan gratis untuk sekuruh rakyat dan jaminan pensiun buruh sama dengan PNS/TNI/Polri – Tolak Upah Murah: cabut PP 78/2015) yang sudah disuarakan pada saat Mayday.[]

Tolak Kenaikan Tarif Listrik Buruh KSPI Gerakan Aksi Di Beberapa Kota Besar

Demo buruh.

JAKARTA – Jangankan memenuhi tuntutan buruh dalam Mayday tentang HOSJATUM (Hapus OutSourcing dan pemagangan – JAminan Sosial: jaminan kesehatan gratis untuk seluruh rakyat dan jaminan pensiun untuk buruh sama dengan PNS/TNI/Polri – Tolak Upah Murah: cabut PP 78/2015), malah pemerintah membuat kebijakan yang semakin memberatkan kehidupan buruh dan masyarakat kecil dengan memberikan kado terpahit berupa kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) 900 VA.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang juga Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Said Iqbal berpendapat, dengan kenaikan TDL ini, beban hidup di masyarakat makin bertambah. Terlebih lagi, sebelumnya, Pemerintah menekan daya beli buruh dan rakyat kecil dengan terlebih dahulu membatasi jumlah pasokan BBM jenis premium.

“Akibatnya, para buruh yang kebanyakan menggunakan sepeda motor (pengguna sepeda motor di Indonesia mencapai 86 juta orang) mau tidak mau harus membeli Pertalite atau Pertamax yang notabene harganya terus meroket,” kata Iqbal  melaului rilis yang disampaikan Ketua Departemen Infokom dan Media KSPI, Kahar S. Cahyono, Sabtu (6/5/2017).

Lebih lanjut Said Iqbal menjelaskan, kebijakan Pemerintah menaikkan harga tarif dasar listrik 900 VA dan membatasi keberadaan premium menyebabkan daya beli buruh turun 20 persen. Hal ini, karena, salah satu dari 60 item kebutuhan hidup layak (sebagai dasar kenaikan upah minimum) adalah item harga listrik 900 VA tersebut.

“Bayangkan, kenaikan upah minimum dalam satu tahun hanya sekali, tapi kenaikan TDL 900 VA dan harga-harga kebutuhan pokok lain terjadi beberapa kali dalam satu tahun. Itu pun besarnya kenaikan upah minimum hanya seharga satu kebab di Eropa,” katanya.

Oleh karena itu, KSPI dan buruh Indonesia mendesak Presiden Jokowi menggunakan kewenangannya untuk membatalkan kenaikan harga tarif dasar listrik, diiringi menambah jumlah pasokan BBM jenis premium.

“Sungguh ironis, di tengah menurunnya harga energi dunia seperti batu bara sebagai bahan dasar penggerak pembangkit listrik di Indonesia, tarif harga listrik justru meningkat. Ini sungguh kebijakan yang keliru,” tegas Said Iqbal.

Dalam kaitan dengan itu, KSPI mendesak dibentuk tim audit investigasi dan forensik oleh BPK terhadap PLN yang mengklaim selalu merugi dan dengan seenaknya menaikkan harga listrik yang semakin menyusahkan kaum buruh dan rakyat kecil.

KSPI juga mendesak DPR RI untuk membentuk Panitia Khusus (Pansus) listrik dengan menggunakan hak angket untuk memanggil Presiden guna menanyakan kebijakan kenaikan TDL yang memberatkan buruh dan rakyat kecil.

Untuk menyuarakan penolakan, buruh yang tergabung dalam KSPI dan elemen lain akan melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga listrik di DPR RI pada hari Rabu tanggal 10 Mei 2017 di DPR RI dengan tuntutan menolak kenaikan harga TDL dan mendesak DPR RI membentuk Pansus listrik dan menggunakan hak angket listrik.

“Selain di Jakarta, aksi ini juga serentak dilakukan di beberapa kota besar seperti Bandung, Surabaya, Medan, Batam, dan kota-kota lainnya,” pungkas Said Iqbal.[gf]

Bagi Seorang Wanita, Setiap Luka adalah Ujian untuk Lebih Kuat

Be much stronger./Copyright instagram.com/yournokt
www.zonalabour.com, JAKARTA – Seberapa banyak luka yang pernah kamu dapat di masa lalu? Sudah berapa kali kamu menangis dan terjebak dalam suatu kondisi yang membuat hidupmu terpuruk? Perasaan sedih, patah hati, tersakiti, dan terluka yang terjadi di masa lalu mungkin tak pernah bisa dilupakan.

Melupakan sesuatu yang terjadi di masa lalu bukan hal mudah untuk dilakukan. Seringnya yang terjadi malah, semakin kuat berusaha melupakannya semakin kuat ingatannya dan membuat kita makin tersiksa. Jika sudah begini, jalan terbaik adalah berusaha berdamai dengan semua luka yang ada.

Kalau Tidak Mencoba Berdamai, Selamanya Kamu Akan Dihantui
Setiap luka yang pernah hadir tak ubahnya jadi ujian kita untuk bisa jadi seseorang yang lebih kuat. Setiap usaha dan perjuangan yang kita lakukan untuk menyelesaikan sebuah masalah selalu menghadirkan kekuatan baru dalam diri. Meski pernah terluka dan terjatuh, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah dengan berdamai dengan semuanya. Ikhlas menerima semua yang sudah terjadi, agar ke depannya bisa lebih ringan melangkah.


Yang lalu biarlah berlalu./Copyright simplereminders.com

Kesedihan dan Kepahitan Menjadi Pelajaran Kehidupan
Tak bisa dipungkiri bahwa hidup tak selalu berisi tawa dan bahagia. Adakalanya muncul air mata dan kepahitan. Tapi semuanya akan menjadi pelajaran kehidupan yang paling berharga. Ketika akan menyerah dan merasa kehilangan harapan hidup, coba ingat lagi sudah berapa banyak halangan yang sudah berhasil kita lalui hingga saat ini. Dengan begitu, kita akan kembali tersadarkan bahwa sebenarnya kita ini kuat.

Breathe./Copyright simplereminders.com

Start Over and Just Get Going!
Biasanya wanita yang tampak kuat dan tegar bukan berarti hidupnya tak pernah punya masalah. Sebaliknya, justru di masa lalunya ada banyak kepahitan dan masalah berat yang dihadapinya. Tapi semua itu menjadi sumber kekuatan barunya. Setiap kali berhasil melewati setiap luka dan ujian, ia selalu berhasil melangkah kembali.


Just get going!/Copyright simplereminders.com

“No one knows what you have been through or what your pretty little eyes have seen, but I can reassure you ~ whatever you have conquered, it shines through your mind.”
― Nikki Rowe

Saatnya untuk berdamai dengan semua luka dan kesedihan di masa lalu, ladies. Kini jadi hari barumu untuk menjadi wanita yang lebih kuat dari sebelumnya.(vem/nda)