Husnul Khatimah: Perjalanan Spiritual Ustadz Yahya Waloni, dari Pendeta hingga Wafat di Mimbar

Zonalabour.com ||

Oleh Saeed Kamyabi, Teluk Segara, Bengkulu, 7 Juni 2025

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka menyelimuti umat Islam di Indonesia, khususnya di Makassar, ketika Ustadz Dr. H. M. Yahya Yopie Waloni, S.Th., M.Th., seorang pendakwah karismatik yang pernah menjadi pendeta, berpulang ke rahmatullah pada Jumat, 6 Juni 2025. Ia wafat di atas mimbar Masjid Darul Falah, Makassar, saat menyampaikan khutbah Jumat, meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah dan umat Islam. Kisah hidupnya adalah perjalanan spiritual yang penuh liku, dari kegelapan pencarian kebenaran hingga cahaya keimanan, yang diakhiri dengan husnul khatimah—sebuah akhir yang diidamkan setiap mukmin.

Awal Kehidupan dan Pencarian Kebenaran

Yahya Yopie Waloni lahir pada 30 November 1970 di Manado, Sulawesi Utara, dalam keluarga Minahasa yang taat beragama Kristen. Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, ia dibesarkan dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai Kristen. Ayahnya, seorang pensiunan tentara yang pernah menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara, memberikan fondasi disiplin dalam hidupnya. Yahya muda dikenal nakal, bahkan mengaku memiliki tato sebagai simbol kenakalan masa remajanya. Namun, kecerdasannya membawanya menapaki karier akademik sebagai pendeta dan dosen, bahkan menjabat sebagai Rektor Sekolah Tinggi Theologia (STT) Calvinis Ebenhaezer di Sorong pada 1997–2004. Ia juga meraih gelar doktor dari Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado pada 2004.

Meski sukses sebagai pendeta, hati Yahya gelisah. Sebagai pakar teologi, ia mendalami agama-agama, termasuk Islam, yang membuatnya kagum pada Al-Qur’an. Kebenaran yang ia temukan dalam Al-Qur’an—yang menurutnya tak mampu diubah seperti kitab suci lainnya—mengguncang keyakinannya. Proses pencarian ini tidak singkat. Selama bertahun-tahun, ia bergumul dengan pertanyaan tentang kebenaran sejati, hingga akhirnya hidayah menyapanya di Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Memeluk Islam: Ujian dan Keteguhan

Pada 11 Oktober 2006, pukul 12.00 WITA, Yahya bersama istrinya, Lusiana, mengucap syahadat di hadapan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Keputusan ini bukan tanpa harga. Yahya menghadapi penolakan keras dari keluarga dan komunitasnya. Mobilnya pernah dihancurkan, ia diserang, dan istrinya, yang kini berganti nama menjadi Mutmainnah, dilecehkan karena mengenakan jilbab. Anak-anak mereka—Silviana (kini Nur Hidayah), Sarah (kini Siti Sarah), dan Zakaria—juga ikut memeluk Islam, menghadapi tantangan serupa. “Saya masuk Islam bukan karena gila, tapi karena sembuh dari gila,” ujar Yahya dalam sebuah tausiah di Palembang pada 2017, menggambarkan betapa berat namun penuh keyakinan langkahnya menuju Islam.

Dukungan dari kaum muslimin menjadi penopang keluarga Yahya. Di Tolitoli, ia dibimbing oleh ulama setempat, termasuk Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Komunitas Muslim di Balikpapan, tempat ia sempat menjadi dosen di Universitas Balikpapan hingga 2006, juga memberikan sambutan hangat. Kehadiran NU dan berbagai organisasi Islam lainnya membantu keluarganya beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai mualaf.

Perjalanan Dakwah dan Proses Belajar Islam

Setelah memeluk Islam, Yahya, yang kini bernama Muhammad Yahya, mendalami Islam dengan penuh semangat. Ia belajar dari ulama-ulama lokal dan membaca literatur Islam, terutama tentang perbandingan agama, yang menjadi keahliannya. Gaya dakwahnya yang tegas, lantang, dan kadang kontroversial membuatnya dikenal luas. Ia sering mengkritik kristenisasi dan misionaris, memanfaatkan latar belakangnya sebagai mantan pendeta untuk mengislamkan ribuan orang, seperti diklaim oleh beberapa tokoh di media sosial.

Yahya aktif berdakwah di berbagai daerah, dari masjid-masjid kecil hingga tabligh akbar, seperti di Kota Duri dan Padang. Ia juga memanfaatkan platform digital, dengan ceramah-ceramahnya di YouTube, seperti di kanal DAE Channel, yang ditonton ribuan kali. Perjalanan dakwahnya tidak lepas dari kontroversi. Pada 2018, ia dilaporkan ke polisi karena ceramahnya yang dianggap menghina tokoh seperti KH Ma’ruf Amin dan Tuan Guru Bajang. Meski begitu, ia tetap konsisten menyampaikan pesan tauhid dan kebenaran Islam sesuai keyakinannya.

Pertemuannya dengan Jamaah Tabligh menjadi titik balik lain dalam hidupnya. Yahya terinspirasi oleh semangat mereka dalam berdakwah tanpa pamrih, yang memperkuat komitmennya untuk menyebarkan Islam. Ia sering bergabung dalam kegiatan tabligh, memperluas jangkauan dakwahnya hingga pelosok Indonesia.

Haji, Umroh, dan Kehidupan Ekonomi

Yahya menunaikan ibadah haji dan umroh beberapa kali, meski detail perjalanannya tidak banyak terekam. Menurut sumber, ia pertama kali menunaikan haji beberapa tahun setelah memeluk Islam, didampingi oleh komunitas Muslim yang mendukungnya. Pengalaman di Tanah Suci memperdalam keimanannya, yang tercermin dalam khutbah-khutbahnya tentang keikhlasan dan ketauhidan.

Secara ekonomi, kehidupan Yahya tidak selalu mudah. Sebagai mualaf, ia kehilangan banyak privilege dari masa lalunya sebagai pendeta dan akademisi. Namun, ia hidup sederhana, mengandalkan honor dari ceramah dan dukungan komunitas Muslim. Ia pernah menyebutkan bahwa dakwahnya bukan untuk mencari harta, melainkan untuk menyampaikan kebenaran. “Saya bersyukur Allah memberikan hidayah, bukan kekayaan dunia,” ujarnya dalam sebuah ceramah di Padang pada 2023.

Khutbah Terakhir: Idul Adha dan Jumat yang Sakral

Pada 6 Juni 2025, Yahya Waloni tampil sebagai khatib Idul Adha di Jalan Rajawali, Makassar. Dengan penuh semangat, ia menyampaikan pesan tentang pengorbanan dan ketauhidan, meski usianya telah 55 tahun. Pagi itu, tidak ada tanda-tanda bahwa itu akan menjadi khutbah terakhirnya di hadapan publik. Siang harinya, ia kembali naik mimbar di Masjid Darul Falah, Minasa Upa, untuk khutbah Jumat. Jamaah terpukau oleh suaranya yang menggema, menyerukan pentingnya mentauhidkan Allah.

Namun, saat memasuki khutbah kedua, tubuhnya tiba-tiba goyah. “Masih sempat berdiri, mengingatkan kita pentingnya bertauhid kepada Allah,” kenang Harfan Jaya Sakti, Sekretaris Pengurus Masjid Darul Falah. Beberapa detik kemudian, Yahya terjatuh di mimbar, tak sadarkan diri. Jamaah terdiam, kaget, dan segera berusaha menolong. Ia dilarikan ke RS Bahagia, hanya 100 meter dari masjid, namun nyawanya tak tertolong. Ia wafat sekitar pukul 12.30 WITA, meninggalkan jamaah dalam suasana haru dan duka.

Proses shalat Jumat sempat tertunda. Seorang ustadz lain, yang tidak disebutkan namanya, menggantikan Yahya sebagai khatib dan imam untuk melanjutkan ibadah. Jamaah, yang masih terpukau oleh kejadian itu, menyebut momen wafatnya Yahya sebagai sesuatu yang sakral—seorang dai yang berpulang di hari Jumat, di atas mimbar, saat menyampaikan pesan ilahi.

Tidak ada informasi pasti tentang penyakit yang diidap Yahya. Menurut keterangan jamaah, ia tampak sehat dan bersemangat saat khutbah. Kepergiannya yang mendadak membuat banyak orang percaya bahwa ia dipanggil dalam keadaan terbaik, sebuah tanda husnul khatimah.

Husnul Khatimah: Fenomena Wafat di Mimbar

Wafat di atas mimbar bukanlah peristiwa baru. Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi, seperti Ustaz Puad Muzakar Siregar, yang wafat saat khutbah Jumat di Masjid Raya Baitul Izzah, Bengkulu, pada 27 Agustus 2021. Ia juga terduduk setelah khutbah pertama dan dinyatakan meninggal dunia. Di Majalengka, Ustaz Marnis Bahrum wafat saat khutbah Idul Fitri pada 13 Mei 2021. Di berbagai penjuru dunia, peristiwa serupa juga tercatat, seperti di Mesir dan Turki, di mana ulama wafat saat berdakwah, yang sering dianggap sebagai tanda husnul khatimah.

Dalam Islam, husnul khatimah adalah akhir hidup yang baik, ditandai dengan keimanan, amal saleh, dan keadaan mulia saat berpulang. Wafat di atas mimbar, saat menyampaikan pesan tauhid, di hari Jumat yang penuh berkah, dianggap banyak orang sebagai salah satu bentuk husnul khatimah. “Ia wafat dalam keadaan khatib, menyampaikan pesan ilahi, di hari Jumat yang penuh berkah. Sebuah akhir yang mungkin diidamkan oleh banyak ulama,” tulis sebuah media.

Warisan dan Doa

Ustadz Yahya Waloni meninggalkan warisan dakwah yang tak terlupakan. Kisahnya sebagai mantan pendeta yang menemukan kebenaran Islam menginspirasi banyak orang. Meski kontroversial, semangatnya dalam menyebarkan tauhid tak pernah surut. Jenazahnya disemayamkan di Masjid Darul Falah sebelum dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan, sesuai keinginan keluarganya.

Kepada umat Islam, Yahya Waloni adalah teladan tentang keberanian memeluk kebenaran, meski harus menghadapi ujian berat. “Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya hidayah. Saya berharap kisah saya ini bisa menjadi inspirasi,” ujarnya dalam tabligh akbar di Padang pada 2023.[](https://padangkita.com/dari-pendeta-menjadi-dai-kisah-inspiratif-ustaz-yahya-waloni-di-tablig-akbar-kota-padang/)

Semoga Allah mengampuni kekhilafannya, merahmati perjuangannya, dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi Raji’un. Semoga penulis dan pembaca juga wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Penulis: Saeed Kamyabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts