by

Siti Ningrum, M.Pd*: Old Normal Versus New Normal

ZONALABOUR.COM, JAKARTA – Saat ini jagad raya tengah ramai memperbincangkan a new normal (kehidupan baru) untuk menghadapi pandemi covid-19. Namun ada yang kita lupakan yaitu old normal.

Old normal adalah tatanan kehidupan lama yang kita gunakan dan tidak bisa memberi solusi dari permasalahan manusia juga jauh dari yang namanya maslahat.

Dalam old normal ada yang dinamakan dengan lima komponen yang saling berkaitan dan berhubungan erat diantaranya kapitalisme, demokrasi, liberalisme, individualisme dan sekulerisme.

1. Kapitalisme sebuah sistem yang dipakai dalam sebuah negara yang berpihak pada pemilik modal

2.Demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Didalamnya ada ajaran Trias Politika yang berasal dari seorang yang berkebangsaan Prancis yaitu Montesquieu.

Menurut Montesquieu ajaran Trias Politika (pemisahan kekuasaan negara) menjadi tiga:

Pertama adanya Eksekutif (pelaksana undang-undang),

Kedua adanya legislatif (pembuat undang-undang)

Dan ketiga adanya yudikatif atau kehakiman (pengawas pelaksanaan undang-undang).

3. Liberalisme adalah serba boleh.
Manusia bebas melakukan hal apapun tanpa ada aturan yang mengikat

4. Individualisme adalah mementingkan diri sendiri, tidak memikirkan orang lain. Tidak peduli dengan nasib orang lain.

5. Sekulerisme adalah memisahkan agama dari kehidupan.

Dalam pelaksanaannya agama tidak boleh ikut campur dalam tatanan kehidupan manusia baik secara individu, bermasyarakat ataupun berbangsa dan bernegara.

Dengan adanya wabah pandemi, Indonesia dan dunia mulai bulan juni akan memasuki era new normal.

Namun yang dimaksud new normal sekarang adalah new normal kebiasaan bukan new normal tatanan kehidupan.

New normal ada dua, new normal ala kapitalisme new normal ala Islam.

1. New normal ala kapitalisme adalah, hanya perubahan kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari. Seperti seringnya mencuci tangan, memakai masker jika keluar rumah, menjaga jarak jika berinteraksi dengan orang. Namun semuanya itu tidak merubah tatanan kehidupan. Sebab hal-hal yang dilakukan diatas tidak mempengaruhi kepada kebutuhan manusia seperti pemenuhan sandang, pangan dan papan. Juga tidak berpengaruh kepada kemaslahatan manusia secara keseluruhan.

Sebelum pandemi kita dihadapkan pada tatanan old normal (sistem kapitalisme) seperti yang telah dibahas diatas. Kehidupan masyarakat tetap dalam kerusakan dan kepahitan dalam menghadapi kebutuhan hidup. Seperti mahalnya harga-harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya kesehatan yang naik terus, mahalnya biaya pendidikan ditingkat Perguruan Tinggi (PT) yang mengakibatkan tidak semua masyarakat bisa mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tidak ketinggalan juga sektor listrik yang terus naik. Pemungutan pajak, harga BBM yang akan menuruti harga pasar namun tidak turun ketika harga minyak dunia turun. Lapangan pekerjaan yang makin sulit untuk pribumi, namun terbuka untuk Tenaga Kerja Asing (TKA).

Sejak tahun 1924 M. Umat islam kembali dalam tatanan old normal yaitu menerapkan sistem kapitalisme sistem yang dibuat oleh manusia, dan diterapkan di seluruh dunia termasuk negeri tercinta Indonesia.

Dan sejak diterapkannya sistem old normal (sistem kapitalisme), kehancuran dan kerusakan terus menghampiri kaum muslimin diberbagai negeri termasuk di Indonesia. Sistem kapitalisme dengan sekulernya yaitu yang memisahkan aturan agama dengan kehidupan. Hukum Allah tidak boleh diterapkan dalam tatanan bersosial. Hanya boleh diterapkan dalam ibadah mahdoh saja seperti sholat, shaum, zakat, pernikahan dan perceraian. Sementara dalam tatanan ghoir mahdoh seperti ekonomi, kesehatan, pergaulan, pendidikan, sosial, budaya, hukum juga pertahanan dan kemanan dan cakupan yang lebih besar yaitu kebijakan pun merujuk kepada sistem kapitalisme.

2. New normal ala Islam

New normal dalam Islam adalah kita mengubah tatanan kehidupan kita yang tadinya old normal menjadi new normal yang benar-benar sesuai dengan fitrah manusia yaitu new normal dalam tatanan kehidupan baru.

Mengapa new normal itu harus mengubah tatanan kehidupan yang dan bukan hanya kebiasaan hidup yang baru. Sebab new normal dalam islam akan menghasilkan rahmatan lilalamin.

Yang dimaksud new normal dalam islam adalah mengubah semua tatanan sistem kapitalisme (old normal) menjadi tatanan kehidupan yang merujuk kepada aturan Sang Pencipta, yaitu tatanan kehidupan Islam atau sistem Islam.

Sistem Islam ini hadir sejak 14 abad yang lalu dan dibawa oleh Nabi Muhammad saw menggantikan sistem lama yaitu sistem jahiliyah yang saat itu diterapkan di Mekah. Kemudian keberhasilan sistem Islam memancar dari Madinah yang kemudian terus dilanjutkan oleh para sahabat (Khulafa Rosyidin) hingga para Khalifah setelahnya dan melebarkan sayapnya sampai tahun 1924 di Turki Utsmani. 2/3 bagian dunia bergabung dalam kewilayahan Islam.

Sistem kapitalisme telah terbukti gagal dalam mengatur kehidupan manusia. Karena memang sudah rusak dari sejak awal kelahirannya. Tidak hanya rusak namun juga merusak.

Berbeda dengan Sitem Islam, sistem Islam akan melahirkan kemaslahatn bagi umat manusia bukan hanya untuk kaum muslimin saja.
Seperti firman Allah

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Dan juga telah dibuktikan selama 14 abad Islam memimpin dunia. Dan telah ditorehkan dengan tinta emas dalam sejarah Islam dalam masa kejayaannya.

Seperti dalam hal keadilan hukum seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi saw.kepada putrinya Fatimah

Rasulullah bersabda :

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا »

“Wahai manusia, sesungguhnya sesatnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan apabila yang mencuri adalah orang-orang yang mulia kedudukannya, maka dibiarkan, akan tetapi manakala yang mencuri adalah orang-orang lemah, maka mereka menegakkan hukum. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”(HR. Bukhari dalam al-Hudud VIII/16 dan Muslim no 1688).

Juga dalam hal periayahan serta tanggung jawabnya seorang Khalifah Umar bin Khatab yang menahan perutnya yang keroncongan.

Dalam suatu masa kepemimpinannya, wilayahnya dilanda paceklik karena musim kemarau berkepanjangan. Umar pun memberikan keteladanannya pada kondisi seperti itu.

Dalam sebuah riwayat yang ditulis dalam bukuSang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid al-Hukmi al-Faifi disebutkan, ketika rakyat sedang dilanda kelaparan, Umar bin Khattab selaku khalifah naik mimbar dengan perut yang keroncongan. Sambil menahan lapar yang tidak kepalang, Umar bin Khattab berpidato di hadapan orang-orang.

Dia mengatakan kepada perutnya, “Hai, perut, walau engkau terus meronta-ronta, keroncongan, saya tetap tidak akan menyumpalmu dengan daging dan mentega sampai umat Muhammad merasa kenyang.”

Serta Khalifah Umar bin Abdul Azis Khalifah Rasyidah Kelima (717-720 M)
Dalam perihal ekonomi, tidak ada yang mau diberi zakat dari kas negara Baitul Mal.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berhasil menerapkan konsep welfare state, yaitu Negara yang sejahtera. Yang mana Umar memiliki kebijakan baru guna merubah taraf hidup masyarakat. Salah satu buktinya yaitu tidak temukan seorang pun yang dapat menerima zakat karena seluruh masyarakat telah berkecukupan.

Kemudian dalam menjaga kehormatan perempuan, dalam era ke-Khalifahan Mutasim Billah.

Al Mu’tashim Billah merupakan gelar milik Muhammad bin Harun Ar-Rasyid. Salah seorang khalifah dari Bani Abbasiyah yang menjabat setelah menggantikan saudaranya, Al Makmun.

Julukan Al Mu’tashim Billah berarti ‘Yang berlindung kepada Allah’. Gelar yang disematkan pada namanya ini menjadikan Muhammad bin Harun Ar Rasyid sebagai khalifah pertama dari Bani Abbasiyah yang menggunakan kata ‘Allah’ pada namanya. Ia menjabat dari tahun 833 hingga 842 Masehi.

Seorang Wanita Berseru Memanggil Sang Khalifah

Sebuah kisah masyhur menunjukkan kepedulian Khalifah Al Mu’tashim kepada muslimah. Peristiwa itu tercatat dalam kisah Penaklukan Kota Ammuriah di tahun 223 Hijriah.

Di tahun 837 Masehi, seorang budak muslimah dilecehkan orang Romawi. Dia adalah keturunan Bani Hasyim, yang saat kejadian sedang berbelanja di pasar. Bagian bawah pakaiannya dikaitkan ke paku, sehingga terlihat sebagian auratnya ketika ia berdiri.

Dia lalu berteriak-teriak, “Waa Mu’tashimaah!”, yang artinya “Di mana engkau wahai Mu’tashim (Tolonglah aku)”.

Berita ini sampai kepada Khalifah. Dikisahkan saat itu ia sedang memegang gelas, ketika didengarnya kabar tentang seorang wanita yang dilecehkan dan meminta tolong dengan menyebut namanya. Beliau segera menerjunkan pasukannya. Tidak tanggung-tanggung, ia menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu Ammuriah (yang berada di wilayah Turki saat ini).

Al Mu’tashim kemudian mencari pelapor berita tentang wanita yang memanggil namanya. Setelah bertemu, Al Mu’tashim mengetahui rumah si wanita. Dia pun menuju ke sana dan berkata kepada si wanita, “Wahai Saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”. Sang wanita mengangguk dan terharu. Beliau lalu memutuskan untuk memerdekakan si wanita. Bahkan dengan wewenangnya, orang Romawi yang telah melecehkan pun dijadikan budak bagi si wanita.

Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Itulah kehebatan sistem Islam. Jika diterapkan dalam tatanan kehidupan manusia bukan hanya maslahat yang didapat tetapi juga akan mengugurkan kewajiban kita sebagai manusia yang hidup didunia ini, yang kelak akan Allah mintai pertanggungjawaban meskipun hanya sekecil dzarah. Allah berfirman dalam QS. Al Zalzalah: 7-8;

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Artinya”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Allah pun telah berjanjin dalam alquran bahwasannya jika penduduk bumi beriman dan bertakwa maka Allah akan berikan keberkahan dari langit dan bumi.

Seperti firman Allah swt dalam Q.S. Al-Araf 96:

أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Untuk itu mari kita beralih ke tatanan kehidupan baru yaitu menerapkan sistem Islam dalam semua aspek kehidupan. Sebab Allah pun telah menyuruh kepada kita untuk memilih hukum yang terbaik.  Seperti dalam QS. Al-Ma’idah: 50;

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin.”. Wallohualam Bishowab.[]

*Praktisi Pendidikan

Comment

News Feed