by

Mala Oktaviani*: Drama Korea Dan Distorsi Makna LGBT

ZONALABOUR.COM, JAKARTA – Dunia memang penuh retorika, dari dunia maya hingga dunia nyata terkena imbasnya. Baik dan buruk telah kabur maknanya, benar dan salah sudah hilang takarannya. Kini hanya terserah pada tangan penguasa, rakyat hanya kebagian deritanya.

Tidak peduli merusak tatanan moral beragama, asal mendatangkan untung pasti dilahap juga. Oh,,,duka lara.

Memang begitulah kondisi dunia saat ini. Praktik-praktik kemaksiaan semakin menjadi-jadi. Pembunuhan, pencurian, pembantaian, zina, pergaulan bebas, LGBT, dan deretan panjang kemaksiatan menambah episode kelam dunia.

Tidak dipungkiri bahwa kini hal itu bukan menjadi hal yang tabu lagi.

Apalagi seruan yang semakin lantang dari kelompok pengusung LGBT untuk mendapat pengakuan dan penerimaaan di kalangan masayarakat. Baik propaganda melalui tulisan, lagu, maupun film semua dijajal untuk mengampanyekan gerakan LGBT.

Seperti baru-baru ini kita ketahui, dilansir dari instagram @korea.id (5/2/2020) dan sejumlah media massa Korea, di tahun 2020 Korea Selatan akan meluncurkan drama terbaru berjudul “Hello Dracula” dengan mengusung konsep LGBT.

Hello Dracula dibintangi oleh aktris Seohyun, anggota termuda dari girl band SNSD yang berperan sebagai Anna. Secara singkat drama ini berkisah tentang seorang guru SD berusia sekitar 30 tahun yang memiliki kelainan orientasi seksual, yaitu menyukai sesama perempuan sejak ia duduk di bangku SMP.

Ia berusaha menyembunyikan hal ini dari iubunya, tetapi ibunya pun akhirnya tahu dan tidak menerima kondisi Anna. Hal ini membuat Anna hidup dalam dilema dan frustasi.

Tidak sama seperti drama series pada umumnya, yang memiliki 16-20 episode, film ini dikabarkan hanya akan tayang dalam dua episode saja.

Rencana peluncuran film ini sendiri akan tayang 17 dan 18 Febrari 2020 di JBTC.
Seohyun sebagai pemeran utama dalam drama ini menyatakan merasa bangga bisa bermain di Hello Dracula dan film ini akan dijadikan hadiah bagi para penonton.

SONE (penggemar SNSD) pun sangat mendukung Seohyun untuk maju dan membintangi film ini dengan baik. Tak sedikit dari penggemar itu adalah anak-anak muda, bahkan agamanya adalah Islam.
Tentu saja pembuatan film ini tidak menghabiskan biaya yang sedikit

Butuh dana yang fantastik untuk menyukseskan film ini agar laris di pasaran, baik melalui sosial media, iklan, mapun industri hiburan (mialnya televisi). Sungguh ironi yang sangat mengenaskan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keterkaitan antara perusahaan sosial media, industri hiburan, dengan pengusaha kapitalis menarget anak muda sebagai sasaran konsumen yang empuk dan menggiurkan.

Kaum muda yang energik dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tidak luput dari pengusaha kapitalis untuk terus memelihara hegemoninya dengan cara menysupkan ide-ide sekuler dan liberal seperti LGBT di seluruh dunia termasuk dunia Islam.

Umat dibius seakan-akan perilaku LGBT adalah hal yang lumrah di tengah-tengah masyarakat. LGBT hanya digambarkan sebagai keragaman sifat dan kecenderungan berpikir yang unik.

Padahal hal tersebut adalah kemaksiatan keji yang dijejalkan kepada masyarakat.
Memang, dengan pengaruh sistem sekuler saat ini justru memberi ruang gerak bebas bagi para pengusung ide LGBT.

Perilaku menyimpang akan terus dibenarkan atas nama HAM. Muncul sebagai kebebasan berekspresi dan berperilaku, meskipun merusak moral individu terlebih merusak moral masyarakat.

Bahkan yang lebih mengenaskan adalah hak-hak pengusung ide LGBT ini ternyata telah diakui oleh deklarasi PBB tahun 2008, dalam UN Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity (Deklarasi PBB terkait Orientasi Seksual dan Identitas Gender).

Sebenarnya Hello Dracula bukanlah film pertama dari negeri gingseng yang bercerita tentang LGBT. Banyak pula film-film lain yang berkisah tentang LGBT di antaranya You’re All Surrounded, Ho Goo’s Love, You’re Beautiful,
Sungkyunkwan Scandal, To The Beautiful You, Kill Me Heal Me, Secret Garden, Reply 1997, Life Is Beautiful, Seonam Girls High School Investigators, dan lainnya.

Saat ini bersikap waspada dan resistensi saja dari kaum Muslim tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Justru diamnya kamu Muslim akan semakin membuat pengusung LGBT menjadi liar dan bebas melakukan kemaksiatan.

Kampanye ataupun demo untuk menolak kaum LGBT ini sejatinya tidak akan menumpas mereka sampai ke akarnya jika sistem yang bercokol tetaplah sistem sekuler. Dimana sistem ini yang memberikan nutrisi bagi kaum LGBT untuk terus tumbuh subur dengan kebebasan yang mereka usung.

Bila sikap resistensi ataupun kewaspadaan saja tidak cukup bagi kaum Muslim, lantas apa yang harus dilakukan kaum Muslim?

Perlu ada kesadaran secara mendalam yang sempurna dari umat Islam menyikapi pergerakan kaum LGBT di era sekuler modern ini. Jangan sampai umat Islam bersikap reaktif dan sporadis, karena lawan yang dihadapi umat bukanlah masalah sepele, melainkan masalah sistematis yang menggandeng pengusaha bahkan penguasa.

Maka umat Islam harus melawan dengan cara yang sistematis dan serius.

Pertama, teruslah menyampaikan visi-visi Islam yang menjaga nilai-nilai kehormatan manusia serta menjaga keturunan umat manusia di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Sebab, hanya Islamlah yang mempunyai konsep menjaga keluhuran nasab (keturunan) manusia. Melakukan edukasi di tengah-tengh umat bahwa LGBT adalah perilaku maksiat yang dilaknat oleh Allah dan Rasulullah. Bahkan Rasulullah menyampaikan dalam sabdanya,
“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya.”(HR. At-Tirmidzi : 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561, dan Ahmad : 2727).

Jangan pernah berhenti berdakwah menjalankan kewajiban ‘amar ma’ruf nahiy munkar untuk menyadarkan umat atas perilaku meyimpang kaum LGBT. Semakin berkembangnya LGBT di tengah-tengah masyarakat hanya akan menjadikan depopulasi manusia serta kerancuan tali keturunan (nasab) manusia.

Jika telah seperti ini, bagaimana mungkin akan lahir generasi yang baik di masyarakat.

Selanjutnya adalah mengedukasi umat untuk berhenti menggunakan sistem sekuler liberal yang di dalamnya terkandung ide-ide kebebasan misalnya saja HAM. Sebab ide kebebasan membuat seseorang tidak peduli dengan kemaslahatan orang, terlebih generasi mendatang.

Terakhir adalah bersegera untuk melaksanakan perintah Allah dengan menerapkan dan menjalankan aturan Islam secara sempurna di tengah-tengah umat, karena hanya Islam yang memiliki konsep pengaturan yang paripurna dan sempurna untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Hanya Islam yang mampu menjamin kehormatan dan martabat manusia serta mencegah manusia terjerumus pada perilaku hewani seperti LGBT.[]

*Mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang

Comment

News Feed