by

Ferly Yusnia, A.Md: Mengakhiri Stress Dan Depresi Di Dalam Keluarga Dan Masyarakat

ZONALABOUR.COM, JAKARTA – Seorang suami bernama Azwar yang diduga mengidap gangguan kejiwaan tega menusuk istrinya hingga kritis.

Azwar disebut-sebut berhalusinasi melihat istrinya sebagai Dajjal hingga dengan tega menusuk istrinya.
Informasi tersebut dibenarkan oleh Kasatreskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Muharam Wibisono.

Peristiwa keji itu dilaporkan detiknews terjadi pada Selasa (4/2/2020) sekitar pukul 01.30 WIB di rumah pelaku yang berada di wilayah Serpong, Tangsel.

Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak realitas dsn kehidupan suami istri di negeri ini. Belum lagi terkait dengan KDRT, bodyshaming yang menjadi penyebab seseorang stres ataupun depresi sehingga mendorongnya melakukan hal-hal yang mencelakai orang terdekat baik istri, anak maupun saudara bahkan dirinya sendiri. Orang terdekat yang seharusnya dilindungi malah dicelakai.

Maraknya tindakan berbahaya, mencelakai dan melukai orang dekat semacam ini seharusnya menyadarkan kita semua bahwa stress, depresi merupakan hal yang harus mendapat perhatian dan penanganan serius semua pihak.

Penanganan stress dan depresi ini melibatkan seluruh elemen baik keluarga terdekat, masyarakat sekitar ataupun negara. Keluarga terdekat hadir dengan cara memberikan support positif baik dari sisi kasih sayang maupun pemahaman agama ditambah dengan pola penanganan medis.

Melalui ikhtiar optimal dengan penguatan agama dan medis in syaa Allah akan memperkuat psikologi mereka yang terpapar depresi dan stres akan berangsur sembuh.

Masyarakat sekitar yang aware tentunya juga akan mempengaruhi seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Gaya dan pola hidup masyarakat yang sederhana, jauh dari sikap hidup konsumtif setidaknya akan memperkecil ruang dan tingkat stress seseorang.

Namun fakta yang kita temukan di masyarakat sekarang adalah gaya hidup individualis, hedonis dan liberalis.

Gaya hidup model seperti ini mendorong tiap individu berlomba-lomba meraih kesenangan dan mengejar materi belaka dan melupakan hakikat hidup sesungguhnya.

Belakangan didapati seorang suami yang membakar dirinya sendiri karena tidak sanggup mengikuti gaya hidup istri yang selalu belanja online hingga menghabiskan uang belanja ratusan juta.

Selain sisi minus dalam hal ekonomi dan pemahaman agama, faktor stres dan depresi bisa muncul akibat bullying melalui sosmed yang terbuka bebas.

Hal ini banyak dialami artis dan para selebrita. Tidak sedikit kemudian kita dengar berita artis terjerat narkoba.

Karena stress, tertekan oleh cuitan fans atau antifans, seorang artis menempuh jalan pintas dan nekat bunuh diri.

Semua ini terjadi akibat budaya permisif, suka suka tanpa mengindahkan norma susila maupun agama.

Oleh karena itulah, Islam melalui Rasulullah, mengajarkan umatnya selalu menjaga lisan, tangan agar jangan sampai melukai orang lain.

Hal ini tergambarkan secara harmonis seperti halnya kehidupan masyarkat Madinah saat Rasul Muhammad menjadi seorang khalifah.

Masyarakat nonmuslim seperti Yahudi dan Nasrani hidup berdampingan dengan kaum muslim. Tidak ada kata kata liar yang mengusik satu sama lain. Islam menekankan pentingnya menjaga lisan kepada semua pihak.

Inilah pentingnya peran masyarakat menjaga dan memelihara lisan sagar terjamin kehidupan yang sempurna dan positif sehingga memberi dampak kebaikan kepada setiap individu.

Masyarakat yang memiliki kebiasaan positif akan memberikan dampak yang baik dan positif juga terhadap individu.

Dalam hal ini, pemerintah atau penguasa juga memegang peran yang amat penting. Negara yang baik, tentunya ingin rakyatnya hidup aman, jauh dari stress apalagi depresi.

Maka negara dengan kekuasaannya itu dapat membangun sebuah konsep kurikulum pendidikan yang mampu membimbing individu menjadi pribadi yang kuat menghadapi kehidupan dan tidak mudah terbawa arus dengan bekal keimanan yang kuat serta tahan banting dengan masalah yang mendera.

Bukan individu individu berjiwa alay dan lemah menghadapi persoalan ekonomi dan soal soal remeh temeh lain.

Lihatlah sikap yang ditampilkan Khalid bin Walid. Dalam masa peradaban dan kejayaan Islam, Persia yang merupakan negara Adidaya kalah oleh Madinah yang merupakan negara kecil. Saat itu Khalid bin Walid menjadi panglima muda yang super berani.

Khalid bin Walid, seorang panglima perang Rasul yang sangat tangguh dan tidak memiliki rasa takut kepada siapapun termasuk kematian.

Ketika diminta minum racun yang sangat mematikan oleh sang Ratu, tanpa gentar sedikitpun, Khalid bin Walid pun meminumnya dengan berucap, “Bi idznillah, hanya Allah yang dapat mematikan manusia bukan racun ini. ” Khalid pun tidak mengalami keracunan.

Keyakinan iman yang begitu kuat menghadirkan kepemimpinan dalam diri dan mampu memimpin orang lain, bermanfaat bagi agama dan negara.
Mengapa kita tidak mencoba untuk mencontoh mereka?

Model manusia seperti Khalid bin Walid itu tidak akan mungkin menghadapi depresi apalagi stres karena mentalitas prima melewati batas batas kehidupan materialistis dan gaya hidup hedon.

Berbeda dengan kondisi kekinian, hampir setiap hari, berisikan soal tindak kejahatan karena stress ataupun depresi begitu banyak.

Hanya karena diejek teman, tidak naik kelas, putus dengan pacar bisa berujung bunuh diri.

Hal serupa juga terjadi terhadap mereka yang sudah berkeluarga dengan tekanan hidup yang membuat mereka mudah terjangkit stress. Biaya hidup yang tinggi, anak-anak yang bermasalah, sulitnya lapangan kerja untuk mendapatkan rejeki mempermudah seseorang mengalami stress dan depresi.

Negara tidak boleh santai dan menganggap enteng persoalan ini. Negara sudah sepatutnya segera melakukan tindakan pencegahan stress dan depresi ini demi pembangunan SDM unggul yang dicita-citakan.[]

Comment

News Feed